Denpasar – Anggota MPR RI Dr. Wayan Sudirta, SH., MH., mendorong mahasiswa di Bali untuk membentuk kelompok diskusi kebangsaan. Hal ini disampaikan Sudirta saat menggelar Serap Aspirasi dan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan RI di Sekretariat PHDI Bali, Denpasar, Minggu (13/9).
Dalam acara yang berlangsung hangat dan antusias tersebut, Sudirta menantang para generasi muda untuk peka terhadap berbagai isu kebangsaan, khususnya permasalahan lokal di Bali.
“Agar suara dan aspirasi-aspirasi tentang Bali benar-benar diperhatikan, kalian saya dorong membentuk Kelompok Diskusi. Rumuskan dan diskusikan di kelompok, sebelum dibawa ke forum baik di DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota maupun kepala daerah,” ujar Sudirta memberi semangat.
Sejumlah mahasiswa Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa yang hadir turut menyuarakan aspirasi terkait pemerataan pembangunan infrastruktur di Bali. Mereka menyoroti ketimpangan finansial akibat distribusi Pajak Hotel dan Restoran (PHR) yang dinilai belum merata, padahal sektor pariwisata Bali dirawat oleh seluruh masyarakat dari berbagai daerah.
Menanggapi hal itu, Sudirta langsung meminta pembentukan kelompok diskusi secara konkret untuk mengawal isu tersebut ke pemerintah daerah. Para mahasiswa menyambut baik dan meminta waktu satu bulan untuk merekrut hingga 30 pemuda. Guna memperkuat advokasi, mahasiswa juga dapat berkolaborasi dengan Relawan Wayan Sudirta, termasuk jaringan LSM dan LBH KORdEM Demokrasi Bali.
Mengangkat tema Keadilan Sosial sesuai Sila Ketujuh Pancasila, Sudirta menyoroti ketimpangan yang masih terjadi setelah 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Kesenjangan sosial, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga alokasi anggaran pembangunan dinilai masih perlu terus diperjuangkan.
“Walaupun demikian, kita tidak boleh berputus asa untuk mengisi kemerdekaan ini, yang telah diperoleh melalui perjuangan dengan pengorbanan sampai nyawa para pahlawan,” tegas politikus asal Karangasem tersebut.
Dalam kesempatan itu, Sudirta turut membagikan kisah masa mudanya yang penuh keterbatasan saat menempuh pendidikan dari Desa Pidpid menuju Amlapura. Perjuangan berjalan kaki belasan kilometer tanpa alas kaki itu membentuk mentalnya hingga mampu dipercaya duduk di Senayan sebagai anggota DPD RI (2004–2014) dan DPR RI (2019–sekarang).
Ia merangkum kunci sukses berdasarkan ajaran Catur Purusa Artha serta literatur klasik seperti Mahabharata, Sam Kok, dan Sun Tzu, yang mencakup lima elemen utama: kejujuran, keberanian, kepintaran, kerja sama, dan dukungan logistik. Sudirta berharap mahasiswa saat ini dapat memanfaatkan keterbukaan informasi untuk berprestasi lebih tinggi dibanding generasi pendahulunya.







