Selamat Jalan Wayan Suyadnya, Wartawan Senior Yang Konsisten Membela Integritas Pers

Wirata Dwikora DKK Ucapkan Bela Sungkawa

Denpasar – Dunia jurnalistik di Bali kembali berduka. Wartawan senior, Wayan Suyadnya, menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat, (20/3/2026(, bertepatan dengan Hari Ngembak Geni. Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi insan pers dan pegiat demokrasi di Bali.

Advokat sekaligus praktisi pers, Putu Wirata Dwikora, mengenang almarhum sebagai sosok wartawan berintegritas tinggi yang tidak hanya tajam dalam analisis, tetapi juga memiliki keberanian dalam menyuarakan kebenaran.

banner 728x250

“Wayan Suyadnya adalah wartawan yang punya integritas, kemampuan intelektual, berani, dan tetap obyektif dalam menjalankan profesinya. Ia juga sangat peduli pada persoalan kemanusiaan,” ungkapnya.

Sepanjang kariernya, almarhum dikenal memiliki rekam jejak panjang di dunia jurnalistik. Ia memulai kiprahnya di Harian Bali Post pada tahun 1991 hingga 2011. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Koran Bali Tribune (2011–2013), kemudian mendirikan media Pos Bali dan memimpinnya hingga 2018. Tak berhenti di sana, ia kembali mendirikan Media Bali sebagai wadah baru untuk menyuarakan gagasan kritisnya.

Selain aktif di media cetak, almarhum juga dikenal produktif menulis pemikiran melalui platform digital seperti WhatsApp dan Facebook, yang kemudian dirangkum dalam tulisan bertajuk “Catatan Paradoks” dan dibukukan.

Dalam kenangannya, Putu Wirata Dwikora juga menyoroti peran penting almarhum dalam membela kebebasan pers, termasuk saat menjadi ahli pers dalam persidangan di Pengadilan Negeri Negara, terkait kasus yang menjerat wartawan CMN, Putu Suardana.

“Almarhum menjelaskan secara gamblang perbedaan antara karya jurnalistik dengan unggahan pribadi. Ia menegaskan bahwa berita yang dipersoalkan jelas merupakan produk jurnalistik yang telah melalui proses verifikasi, wawancara, dan hak jawab,” tegasnya.

Meski demikian, dalam perkara tersebut, terdakwa tetap dinyatakan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang menurutnya menunjukkan bahwa asas lex specialis dari UU Pers belum sepenuhnya dijadikan rujukan dalam penanganan perkara pers.

Ia juga mengapresiasi keberanian almarhum yang tetap bersedia menjadi ahli, meskipun sempat ragu karena tidak memiliki sertifikat Dewan Pers.

“Namun pada akhirnya beliau hadir dan bahkan siap berdebat. Ia membeberkan secara jelas batasan karya jurnalistik dan delik hukum yang seharusnya tidak dikenakan jika karya tersebut sudah memenuhi kaidah jurnalistik,” tambahnya.

Putu Wirata Dwikora mengaku telah mengenal almarhum sejak masa transisi Orde Baru ke Reformasi, sekitar tahun 1998–1999. Saat itu, keduanya sama-sama aktif dalam aktivitas jurnalistik dan advokasi, termasuk dalam gerakan Komisi Pencari Fakta Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KPF KKN) serta Bali Corruption Watch (BCW).

“Almarhum termasuk wartawan yang konsisten mengangkat isu-isu advokasi dan gerakan kritis terhadap kekuasaan. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga memahami substansi persoalan yang diangkat,” kenangnya.

Tak hanya di dunia jurnalistik, almarhum juga aktif dalam organisasi keagamaan dan profesi. Ia tercatat sebagai anggota Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat selama beberapa periode, serta aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali sebagai Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Penyiaran Daerah (KPID) Bali serta menjadi bagian dari Dewan Pembina Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

Kepergian Wayan Suyadnya menjadi kehilangan besar bagi dunia pers, khususnya dalam perjuangan menjaga independensi dan kebebasan jurnalistik di tengah berbagai tantangan.

“Selamat jalan sahabat, Nyujur Sunyaloka, menyatu dengan Brahman. Terima kasih atas dedikasi dan keberanianmu dalam membela kebenaran,” tutup Putu Wirata Dwikora.

Almarhum dikenang sebagai sosok yang tidak hanya menjalankan profesi sebagai wartawan, tetapi juga sebagai pejuang nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan. Warisan pemikiran dan keberaniannya akan terus hidup dalam ingatan insan pers dan masyarakat luas. (!)

Loading

banner 728x250
Penulis: Suardana, Wirata Dwikora, DKKEditor: Nirmedia
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250