DENPASAR – Hari Suci Nyepi kini tengah dipersiapkan untuk naik kelas ke kancah internasional. Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali bersama DPD Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali menggelar rapat intensif untuk mengusulkan Nyepi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.
Rapat pembahasan ini digelar di Ruang Rapat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Senin (27/4). Upaya ini dinilai sangat krusial mengingat Nyepi bukan sekadar ritual lokal, melainkan tradisi yang memiliki dampak nyata terhadap pelestarian bumi secara global.
‘Healing’ untuk Ibu Pertiwi
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, membuka langsung diskusi tersebut. Sementara itu, Ketua DPD Prajaniti Bali, dokter Sayoga, menekankan bahwa Nyepi adalah kearifan lokal dengan dampak kemanusiaan yang mendunia.
Senada dengan hal tersebut, penasihat Prajaniti Bali, Prof. Donder, menyebut Nyepi adalah momen penting bagi semesta. “Nyepi adalah bentuk kesadaran akan keterhubungan kita dengan semesta, sekaligus healing untuk bumi sebagai Ibu Pertiwi,” ungkapnya.
Secara saintifik, pelaksanaan Nyepi di Bali memang terbukti mampu memberikan waktu istirahat bagi alam, mengurangi emisi karbon, hingga menghemat penggunaan energi secara signifikan dalam sehari.
Syarat Konkret Menuju UNESCO
Meski secara nasional Nyepi sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2023, perjalanan menuju pengakuan UNESCO memerlukan langkah strategis. Tokoh seni dan budaya Bali, Prof. Made Bandem, memaparkan sejumlah aspek yang harus diperkuat dalam dokumen pengusulan.
“Ada langkah konkret yang harus dipenuhi, mulai dari menonjolkan aspek religius, spiritual, ekologis, hingga potensi ekonomi kreatif yang menyertainya,” jelas Prof. Bandem.
Didukung Penuh Majelis Desa Adat hingga PHDI
Rencana besar ini pun mendapat lampu hijau dari berbagai lembaga tinggi di Bali. Putu Wirata Dwikora yang mewakili PHDI Bali menyatakan akan segera membawa bahasan ini ke Sabha Pandita untuk dikaji lebih dalam.
Adapun alasan kuat pengusulan ini, sebagaimana tertuang dalam surat Prajaniti kepada Menteri Kebudayaan tertanggal 25 Maret 2026, adalah nilai Tri Hita Karana. Filosofi ini menjaga harmoni antara:
Parhyangan: Hubungan manusia dengan Tuhan.
Pawongan: Hubungan manusia dengan sesama.
Palemahan: Hubungan manusia dengan alam.
Dalam pemaparan penutup, Prof. Ida Ayu Tary Puspa menegaskan bahwa dunia internasional sebenarnya sudah lama menaruh hormat pada tradisi Nyepi.
“Nyepi is beyond religion and tradition. Ini telah menjadi warisan nilai global untuk menjaga keberlangsungan masa depan bumi,” tegasnya.
Rapat ini turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Bali, Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Bali, serta Majelis Kebudayaan Bali. Seluruh pihak yang hadir sepakat dan menyambut baik upaya membawa Nyepi ke panggung UNESCO demi kelestarian budaya Bali di masa depan.(Sis)







