Geger Sapi di Jembrana Mati Mendadak dengan Tubuh Bentol-bentol, Serangan LSD?

Ket foto: Sapi milik warga di Jembrana yang diduga terserang LSD (Lumpy Skin Disense) atau menyerupai cacar air

JEMBRANA – Sejumlah peternak sapi di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, tengah dilingkupi keresahan. Hewan ternak mereka mengalami gejala aneh berupa bentol-bentol di sekujur tubuh hingga kematian.

Salah satu peternak, Ni Kadek Suartini, menuturkan anak sapi miliknya mati pada 4 Januari lalu. Sebelum mati, sapi tersebut menunjukkan gejala bengkak pada bagian kaki dan muncul bentol-bentol kemerahan.

banner 728x250

“Sempat disuntik oleh dokter hewan tetapi tetap mati. Saat suami saya selesai mencari rumput, sapi ditemukan sudah mati. Ciri-cirinya bentol kemerahan,” ujar Suartini saat ditemui.

Kondisi serupa dialami oleh Suwitra, peternak lainnya di desa setempat. Sapi miliknya yang berusia 4 bulan kini dalam kondisi memprihatinkan. Bentol-bentol di tubuh sapi tersebut pecah hingga mengeluarkan darah.

“Awalnya saya kira digigit nyamuk, tapi makin banyak sampai kaki bengkak. Sudah dua minggu seperti ini. Sekarang bentolnya pecah keluar darah banyak,” kata Suwitra. Khawatir nasibnya sama dengan ternak warga lain, ia memilih tidak menyuntikkan obat kimia dan hanya mengolesi minyak.

Merespons laporan tersebut, Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, menyatakan pihaknya telah turun ke lapangan. Namun, ia menegaskan belum bisa memastikan apakah fenomena ini adalah wabah Lumpy Skin Disease (LSD).

“Sesuai di lapangan, kami belum berani memastikan itu dugaan LSD. Karena Bali ini kan bebas LSD. Ada penyakit lain yang mirip akibat perubahan cuaca, misalnya demodikosis,” jelas Sugiarta.

Ia menambahkan bahwa meski gejalanya mengarah pada suspek, pemeriksaan mendalam harus dilakukan. Pihaknya berencana menggandeng Balai Besar Veteriner (BBVet) untuk uji sampel darah.

“Kalau laporan sapi mati itu ada, karena penyakit sapi itu banyak. Kelihatannya tidak mematikan, tetapi stresnya yang mengakibatkan mati, apalagi kalau masih anakan,” imbuhnya.

Sugiarta menjelaskan bahwa LSD sejatinya adalah penyakit kulit yang ditandai dengan kerompeng pada kulit, demam, dan menurunnya nafsu makan. Penyakit ini menular antar-sapi melalui perantara nyamuk dan lalat, bukan melalui angin.

“Penyakit ini tidak menular ke manusia (bukan zoonosis) dan dagingnya masih bisa diolah,” tegasnya.

Sejauh ini, Dinas Pertanian telah menerima laporan sekitar 7 ekor sapi yang mengalami gejala serupa, di mana beberapa di antaranya sudah sembuh. Sebagai langkah antisipasi, petugas telah melakukan spraying (penyemprotan) disinfektan di lokasi temuan kasus.

“Setiap laporan kita tindak lanjuti dengan pemberian disinfektan. Kami imbau peternak waspada karena perubahan musim ini pemicu banyaknya penyakit. Untuk tindakan lebih lanjut, kami tunggu hasil sampel darah dulu,” pungkasnya.(Sis)

 

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250