Saat Perempuan dan Disabilitas Jadi ‘Pilar’ Restorasi Mangrove di Jembrana

Ket : Saat Perempuan dan Disabilitas Jadi 'Pilar' Restorasi Mangrove di Jembrana

JEMBRANA – Restorasi mangrove di Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Jembrana, kini tak lagi hanya bicara soal menanam pohon. Lebih dari itu, ada semangat keadilan sosial yang diusung melalui pelatihan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Bali ini digelar selama dua hari, 28–29 Januari 2026, di Nirwana Garden Bali. Tujuannya jelas: memastikan perempuan dan penyandang disabilitas punya peran setara dalam menjaga ekosistem pesisir.

banner 728x250

“Pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan kapasitas masyarakat desa dalam mendukung program restorasi mangrove. Jadi tidak hanya pemulihan ekosistem, tapi juga pada keadilan sosial dan inklusivitas,” tulis keterangan HWDI Bali, Kamis (29/1).

Meski program restorasi mangrove di Desa Tuwed mendapat dukungan dari The Asia Foundation, partisipasi kelompok rentan selama ini dinilai belum optimal. Masalahnya klasik, yakni keterbatasan pemahaman mengenai inklusi sosial.

Dalam lokakarya ini, 50 peserta yang terdiri dari perangkat desa, Kelompok Tani Hutan Lindu Segara Tanjung Pasir, Karang Taruna, hingga PKK, dibekali pemahaman mendalam. Mereka belajar membedakan konsep gender dan jenis kelamin, hingga strategi pelibatan disabilitas melalui teknologi dan kolaborasi.

Salah satu peserta, Ni Luh Mariani, yang menjabat sebagai Klihan Dinas Banjar Puseh sekaligus Wakil Ketua PKK Desa Tuwed, mengaku mendapatkan perspektif baru. Ia terkesan dengan semangat para penggerak HWDI.

“Menurut saya, adanya GEDSI itu sangat penting sekali karena kami mendapatkan banyak pengetahuan baru. Saya sendiri merasa sangat antusias melihat semangat dari HWDI,” ujar Mariani.

Mariani berkomitmen untuk membawa “oleh-oleh” ilmu ini ke lingkup yang lebih luas di desanya. Ia ingin nilai-nilai kesetaraan ini dipahami sejak dini oleh generasi muda.

“Ilmu dan pengalaman dari pelatihan ini akan saya tularkan ke masyarakat, terutama anak-anak dan remaja. Harapannya ke depan kita bisa terus bersinergi dengan HWDI, tidak hanya di mangrove, tapi kegiatan bermanfaat lainnya,” pungkasnya.

Dengan penerapan prinsip GEDSI, pengelolaan mangrove di Desa Tuwed diharapkan tidak hanya hijau secara ekologi, tetapi juga kuat secara sosial karena memberikan ruang bagi semua kalangan untuk berkontribusi.

 

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250