JEMBRANA – Suasana khidmat Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948 di Banjar Pasar, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, seketika berubah mencekam. Angin puting beliung menerjang pemukiman warga pada Kamis (19/3) malam, saat warga tengah melaksanakan Catur Brata Penyepian.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 21.00 WITA. Kondisi desa yang gelap gulita karena pemadaman lampu khas Nyepi menambah kepanikan warga saat material atap rumah mereka mulai beterbangan.
Sejumlah saksi mata menuturkan bahwa sebelum kejadian, mereka sedang berada di dalam rumah sesuai aturan Nyepi. Namun, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat keras dari arah selatan.
“Saat kejadian saya ada di dalam rumah. Lampu-lampu mati karena Nyepi. Tiba-tiba ada angin kencang, atap rumah saya berhamburan,” ujar salah satu warga terdampak, Nyoman Suarya, kepada wartawan, Jumat (20/3).
Kepanikan tak terhindarkan lantaran warga harus menyelamatkan diri dalam kondisi gelap total. Beruntung, meski material atap asbes dan genteng berhamburan, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini.
9 Rumah Rusak, Kerugian Capai Rp 10 Juta
Perbekel Yehembang, I Made Sumadi, membenarkan adanya musibah yang menimpa warganya. Pihak desa langsung melakukan pengecekan ke lokasi sesaat setelah kejadian untuk memastikan kondisi warga.
“Tadi malam saat kejadian kami sudah langsung turun untuk melakukan pengecekan ke lokasi bencana. Setelah kami data, ada 9 rumah warga yang mengalami kerusakan pada bagian atap,” kata Made Sumadi.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, total kerugian materiil akibat bencana ini ditaksir mencapai Rp 10 juta Pihak desa juga telah bergerak cepat melaporkan kejadian ini ke instansi terkait.
“Musibah tersebut sudah kami laporkan ke BPBD Jembrana agar segera mendapatkan penanganan lebih lanjut,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, warga dibantu aparat setempat mulai membersihkan puing-puing atap yang berserakan di sekitar lokasi kejadian.







