TABANAN, nirmedia.co – Rombongan partisipan dari beberapa negara mulai berdatangan ke objek wisata Jatiluwih menjelang hari terakhir World Water Forum (WWF) 2024. Seperti yang terpantau pada Jumat (24/5/2024), setidaknya ada 23 partisipan yang datang ke objek wisata di Kecamatan Penebel tersebut. Mereka berasal dari Jepang, Peru, India, Prancis, Belanda, Maroko, dan beberapa negara lainnya.
Mereka datang untuk melihat dan mendapatkan informasi mengenai tata kelola air yang diterapkan subak dalam mengairi sawah di Jatiluwih. Melihat bentangan sawah yang ada di Jatiluwih, mereka sepakat agar tradisi dan sistem yang telah dijalankan subak tetap dipertahankan.
Dengan demikian, keberadaan sawah terasiring di Jatiluwih juga bisa dipertahankan. Seperti yang diungkapkan Ivan Sanchez dari Peru. Ia menyebut keberadaan sawah terasiring di Jatiluwih sangat indah.
Menurutnya, ia sudah pernah menyaksikan langsung sawah di daerah lainnya karena sudah beberapa bulan terakhir ini ada di Pulau Jawa. “Padi di sini bersih dan sistem pengairannya juga bersih dan saling terhubung,” sebutnya.
Karena itu, ia merasa sistem yang telah dijalankan melalui tradisi yang diatur oleh subak harus dipertahankan. “Saya menyarankan generasi muda untuk mempertahankan sawah ini,” imbuhnya. Apalagi, sambungnya, salah satu tantangan ke depan dalam pengelolaan air adalah menyangkut perubahan cuaca.
Menurutnya, ini juga menjadi topik pembahasan dalam beberapa sesi di WWF. Perubahan cuaca memungkinkan terjadinya pengurangan air. “Sehingga kita perlu bersatu untuk mencarikan solusinya,” sebutnya. (Ch/nir).







