Ngawi – Pemerintah Kabupaten Ngawi terus meningkatkan percepatan penurunan stunting melalui Pertemuan Evaluasi Kajian Kasus Stunting yang digelar di RM Notosuman, Senin (24/11/2025). Kegiatan ini menegaskan pentingnya rujukan berjenjang bagi baduta yang tidak mengalami kenaikan berat badan dua kali berturut-turut sebagai langkah deteksi dini dan pencegahan munculnya kasus stunting baru.
Ngawi menunjukkan tren penurunan stunting yang konsisten, dari 14% (SKI 2023) menjadi 11,4% (SSGI 2024), kemudian turun lagi ke 10,32% pada Agustus 2024 dan 10,27% pada Agustus 2025. Meski capaian ini positif, percepatan tetap dibutuhkan untuk mengejar target nasional.
Narasumber dr. Melita Widiyastuti, Sp.A., M.Kes., menegaskan pentingnya kecepatan intervensi. “Balita yang tidak naik berat badan harus segera ditindaklanjuti melalui rujukan berjenjang. Intervensi tepat waktu akan memperbesar peluang mencegah terjadinya stunting,” jelasnya.
Sementara itu, drg. Retno Dewi Sulistiorini, MM., dari Bidang Yankes Dinas Kesehatan Ngawi, menekankan pentingnya sinergi lintas fasilitas kesehatan. “Puskesmas, bidan desa, dan rumah sakit harus bergerak selaras. Mekanisme rujukan yang jelas akan membuat penanganan balita berisiko lebih cepat dan tepat sasaran,” katanya.
Pertemuan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi, mulai dari penguatan pemantauan rujukan, evaluasi tata laksana kasus, hingga analisis faktor risiko. Dinas Kesehatan Ngawi berharap langkah ini dapat memperkuat koordinasi dan meningkatkan kualitas layanan sehingga upaya pencegahan stunting di daerah dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. (%)







