AWK Kembali Disorot, PHDI Bali Respons Aspirasi Umat Dan Akan Klarifikasi Langsung

Keterangan Foto : AWK Kembali Disorot, PHDI Bali Respons Aspirasi Umat Dan Akan Klarifikasi Langsung

Denpasar – Nama Arya Weda Karna,  yang juga dikenal dengan AWK, kembali menjadi perhatian publik usai beredarnya sebuah video yang menampilkan dirinya mengenakan bawa kepada seorang perempuan.

Video yang mulai viral sejak Jumat (3/4/2026) itu memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat, khususnya umat Hindu di Bali, yang mempertanyakan kesesuaian tindakan tersebut dengan nilai-nilai keagamaan.

banner 728x250

Ketua PHDI Bali, Nyoman Kenak, menyampaikan bahwa pihaknya menerima banyak respons dari umat, baik berupa pertanyaan maupun kritik.

“Banyak sekali yang menyampaikan pandangan kepada kami. Ada yang sekadar ingin tahu, ada juga yang menilai itu tidak sesuai dengan etika,” ujarnya.

Menindaklanjuti hal tersebut, PHDI Bali berencana melakukan komunikasi langsung dengan pihak terkait guna memperoleh penjelasan yang utuh.

“Kami akan berupaya menghubungi AWK untuk memahami konteks sebenarnya dari peristiwa tersebut,” jelas Kenak.

Ia menilai, klarifikasi penting dilakukan agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat, sekaligus menjaga keharmonisan umat.

Lebih lanjut, Kenak menegaskan bahwa dalam perspektif sesana, seorang walaka tidak selayaknya mengenakan bawa kepada sosok yang berstatus sulinggih atau sedang menjalani prosesi diksa.

“Secara etika keagamaan, hal itu dinilai kurang tepat,” tegasnya.

Menurutnya, bawa bukan sekadar atribut biasa, melainkan simbol kesucian yang memiliki nilai spiritual tinggi dalam tradisi Hindu.

Karena itu, penggunaannya harus mengikuti aturan serta tata nilai yang telah diwariskan.

Sementara itu, Sekretaris PHDI Bali, Putu Wirata Dwikora, menekankan pentingnya penyikapan yang arif. Ia juga membuka kemungkinan dilakukannya penghaturan bendu piduka apabila ditemukan adanya kekeliruan sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Peristiwa ini menunjukkan tingginya sensitivitas masyarakat Bali terhadap simbol-simbol sakral di tengah perkembangan era digital.

Respons publik yang cepat dinilai menjadi bagian dari kontrol sosial dalam menjaga nilai-nilai keagamaan tetap dihormati.

Bagi PHDI Bali, berbagai kritik yang muncul justru mencerminkan kepedulian umat dalam merawat kesucian tradisi dan ajaran agama Hindu.

Kalau kamu mau, aku bisa buatkan lagi versi yang lebih “tajam” atau versi headline yang lebih menarik untuk media lain. (!)

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250