DENPASAR – Penyakit Kulit Infeksius atau Lumpy Skin Disease (LSD) terdeteksi menyerang ternak di wilayah Kabupaten Jembrana, Bali. Pemerintah Provinsi Bali kini tengah mempertimbangkan opsi penutupan lalu lintas ternak alias lockdown untuk mencegah penyebaran virus semakin meluas.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistan) Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, mengungkapkan kasus ini sebenarnya sudah terendus sejak akhir Desember 2025. Namun, pihaknya memilih berhati-hati sebelum menyampaikan informasi ke publik.
“Secara kasat mata sebenarnya sudah mengarah ke LSD, tetapi kami tidak ingin berspekulasi. Kami menunggu hasil uji yang valid agar langkah yang diambil tepat dan tidak menimbulkan kepanikan,” ujar Sunada dikonfirmasi, Selasa (13/1).
Positif LSD Setelah Uji Lab
Kepastian adanya wabah ini didapat setelah Dinas Pertanian Bali menggandeng Balai Besar Veteriner (BBVET) untuk melakukan uji sampel pada empat ekor kerbau yang terindikasi sakit di Jembrana.
“Hasilnya keluar dan dinyatakan positif LSD. Setelah itu, kami langsung bergerak cepat melakukan koordinasi dengan Direktorat Kesehatan Hewan di Jakarta,” jelas putra daerah asal Tabanan tersebut.
Opsi Lockdown Bali
Sebagai langkah antisipasi, Sunada menegaskan pentingnya memperketat lalu lintas ternak, baik antar-pulau maupun antar-kabupaten di Bali. Bahkan, ia secara pribadi mewacanakan opsi lockdown ternak sementara.
“Bahkan secara pribadi, maunya saya Bali ini kita lockdown sementara untuk lalu lintas ternak, jangan dulu ada pergerakan ternak keluar masuk,” tegasnya.
Meski begitu, kebijakan ini masih akan dibahas bersama pemerintah kabupaten/kota agar tidak menimbulkan polemik. “Nanti jam 10 kami akan rapat bersama seluruh kabupaten dan kota. Kita minta masukan dulu. Kalau sudah satu persepsi, penanganan akan jauh lebih cepat,” imbuhnya.
Saat ini, Pemprov Bali telah mengerahkan stok disinfektan dalam jumlah besar. Kabupaten Jembrana menjadi prioritas utama distribusi karena menjadi titik awal temuan kasus.
“Kebetulan stok disinfektan kita cukup banyak. Kita alokasikan ke semua kabupaten dan kota, namun karena kasus paling banyak di Jembrana, maka disinfektan terbanyak kita kirimkan ke sana,” kata Sunada.
Mengingat vaksin LSD yang saat ini belum tersedia, pemerintah fokus pada pengendalian vektor atau hewan pembawa penyakit. Pasalnya, virus LSD diketahui menular melalui lalat penghisap darah.
Petugas akan dikerahkan untuk melakukan penyemprotan insektisida terhadap ternak dan lingkungan di lima desa terdampak di Jembrana. Langkah ini diambil guna memutus rantai penyebaran di hulu.
Di sisi lain, Sunada menyadari kebijakan pembatasan ternak merupakan dilema, terutama menjelang Hari Raya Idul Adha. Ia tidak ingin langkah yang diambil justru mematikan ekonomi para peternak lokal.
“Kalau lockdown berkepanjangan, ekonomi tidak jalan. Kasihan petani dan peternak kita. Itu sebabnya kita ambil langkah sementara sambil terus meminta masukan dari kabupaten,” tuturnya.
Ia berharap koordinasi yang solid antara Pemprov dan Pemkab dapat segera memutus penyebaran LSD sehingga tidak merembet ke kabupaten lain di Pulau Dewata. “Kalau kita kompak, saya yakin LSD ini bisa kita kendalikan,” pungkasnya.(Sis)







