KARANGASEM – Warga pengempon Pura Dadya Maksan Kawan, Pare Maha Gotra Sentana Dalem Tarukan (PGSDT) di Karangasem, Bali, melayangkan protes keras terhadap ketidakpedulian dinas terkait. Permohonan lampu penerangan jalan (LPJ) yang sudah berkali-kali diajukan tak kunjung mendapat respons, padahal lokasi pura sering ramai dan padat saat upacara keagamaan.
Tokoh pengempon pura mengungkapkan kekecewaan mendalam atas lambannya respons pemerintah. Padahal, jalan di depan pura yang gelap dan sempit dinilai sangat membahayakan, bahkan sudah menelan korban jiwa.
“Sudah sering terjadi kecelakaan, bahkan ada yang meninggal. Kami sudah berkali-kali mengajukan LPJ, tapi tidak pernah direspons. Sementara tiang listrik justru berdiri di pekarangan warga. Kami merasa diabaikan,” ujar salah seorang tokoh pengempon pura dengan nada kecewa, Sabtu (18/10).
Pura tersebut menaungi dua dadya dengan total sekitar 100 kepala keluarga pangempon. Setiap pelaksanaan piodalan dan pujawali, lokasi ini selalu ramai dan padat karena adanya tradisi saling katuran dan kedatangan pemedek dari lingkungan sekitar untuk menghaturkan bakti kepada Ida Bhatara Berati.
Namun, di balik kesakralan itu, warga dihadapkan pada bahaya di jalan depan pura yang berjarak hanya sekitar 50 meter dari area utama. Jalan sempit, gelap, dan rawan kecelakaan, bahkan telah terjadi insiden pengendara menabrak pejalan kaki di malam hari.
Permohonan resmi sudah disampaikan melalui kantor desa oleh tokoh krama pengempon, bahkan sudah diajukan ke PLN dan Dinas Perhubungan. Namun, hingga menjelang Purnama Kelima ini, belum ada keputusan atau realisasi yang turun ke lapangan.
“Kami hanya ingin ada penerangan agar umat bisa beraktivitas dengan aman, terutama saat piodalan dua dadya berlangsung bersamaan. Tapi sampai sekarang, tidak ada tindak lanjut apa pun. Seolah-olah kami ini tidak dianggap,” tambah warga lainnya.
Kondisi ini, menurut warga, sangat memprihatinkan. Di satu sisi tiang listrik berdiri di pekarangan warga, namun lampu penerangan jalan yang sangat dibutuhkan justru tak kunjung diberikan. Mereka menilai, petugas dan dinas terkait hanya menjalankan kemauan sepihak tanpa memperhatikan kebutuhan mendesak warga.
“Kami sudah sabar. Tapi kalau setiap kali piodalan datang, gelap lagi, bahaya lagi, sampai ada korban lagi, mau sampai kapan kami dibiarkan?” tegas warga.
Warga Pura Dadya Maksan Kawan kini berharap anggota DPRD Dapil Bebandem segera turun tangan memperjuangkan hak masyarakat. Mereka berharap sebelum Purnama Kelima tiba, penerangan jalan dapat segera dipasang demi keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran pelaksanaan upacara piodalan berikutnya bagi seluruh pangempon dan pemedek.







