Upacara Warak Keruron Bagi Bayi Keguguran Dalam Tradisi Hindu Bali

Keterangan Foto : Upacara Warak Keruron Bagi Bayi Keguguran Dalam Tradisi Hindu Bali

Jembrana – Upacara Warak Keruron atau Pangepah Ayu merupakan salah satu bentuk pelaksanaan upacara yadnya dalam tradisi Hindu Bali yang berkaitan dengan janin atau bayi yang mengalami keguguran atau keruron.

Upacara ini tergolong jarang diketahui maupun dilaksanakan masyarakat. Selain memiliki tata pelaksanaan tersendiri, Warak Keruron juga menggunakan berbagai sarana upakara yang memiliki fungsi dan makna dalam setiap tahapan ritualnya.

banner 728x250

Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura Dangkahyangan Rambutsiwi, yang saat ini masih aktif berdinas di Tim Intel Korem 163/Wirasatya dan juga Sabha Wakala PHDI Kabupaten Jembrana, menjelaskan bahwa dalam keyakinan Hindu, keberadaan Sang Hyang Atma menjadi salah satu dasar penting dalam pelaksanaan upacara terhadap janin yang mengalami keguguran, meskipun belum sempat lahir dan belum berwujud sempurna.

Menurutnya, Pangepah Ayu dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus penyelesaian secara niskala terhadap roh bayi yang mengalami keguguran. Pelaksanaan upacara tersebut juga berkaitan dengan upaya agar tidak terjadi gangguan atau kekacauan dalam kehidupan keluarga yang dalam istilah Bali disebut ngrubeda.

“Walaupun belum berwujud, kita percaya dengan keberadaan Sang Hyang Atma. Karena itu, bayi yang mengalami keguguran juga perlu mendapatkan perlakuan secara niskala melalui upacara yang sesuai,” jelas Jro Mangku Suardana, Senin (19/4/2021).

Ia menerangkan, pelaksanaan upacara tersebut berlandaskan pada sumber sastra Hindu, di antaranya Lontar Tutur Lebur Gangsa dan Sunari Gama. Rangkaian upakara tidak langsung dilaksanakan di laut atau segara, melainkan diawali dengan sejumlah prosesi di lingkungan keluarga.

Diawali Pakeling dan Guru Piduka di Kemulan

Jro Mangku Suardana menjelaskan, sebelum pelaksanaan upacara di segara, keluarga terlebih dahulu melaksanakan upacara Pakeling dan Guru Piduka di Kemulan.

Dalam rangkaian Meguru Piduka di Kemulan, sejumlah sarana upakara dipersiapkan, antara lain Daksina Pejati, Ketipat, Pras dan berbagai perlengkapannya.

Selain itu, terdapat Banten Guru yang terdiri atas mealed taledan, raka-raka sarwa galahan, tumpeng guru, kojong rangkadan serta sampyan jeet guak.

Kemudian disiapkan pula Sesayut Guru Piduka atau Bendu Piduka. Sarana yang digunakan antara lain taledan kulit sesayut, raka-raka jangkep, tumpeng putih meklongkang plekir, kojong rangkadan, limang tebih jaja bendu, suci, satu buah kwangen, sampyan naga sari, penyeneng, wadah uyah, pebersihan dan perlengkapannya.

“Rangkaian awal di Kemulan ini merupakan bagian penting sebelum pelaksanaan upacara dilanjutkan ke segara. Dari sana kemudian dilakukan nunas tirta untuk dibawa dalam pelaksanaan upacara berikutnya,” ujar Jro Mangku Suardana.

Tempat Keguguran Dilaksanakan Pecaruan Sapuh Awu

Selain upacara di Kemulan, tempat terjadinya keguguran juga mendapatkan perlakuan upakara tersendiri.

Di lokasi terjadinya keguguran dilaksanakan pecaruan Sapuh Awu. Prosesi ini menjadi bagian dari rangkaian upacara yang berkaitan dengan tempat terjadinya keguguran sebelum keluarga melanjutkan pelaksanaan ritual ke pinggir laut atau segara.

Setelah rangkaian tersebut selesai, prosesi kemudian dilanjutkan di kawasan pantai.

Pempatan Agung Menggunakan Kain Putih

Sesampainya di pinggir laut atau kawasan pasir pantai, dilakukan persiapan tempat upacara. Salah satunya dengan membuat pempatan agung menggunakan kain atau kasa berwarna putih.

Selanjutnya dilakukan pemasangan sanggah cucuk sebagai upasaksi kepada Surya. Pada sanggah cucuk tersebut dihaturkan sejumlah sarana upakara, antara lain Daksina, Ketipat, Pras, punjung beserta perlengkapannya.

Sementara di bagian bawah atau ring sor sanggah disiapkan segehan gede asoroh.

Rangkaian tersebut merupakan bagian persiapan sebelum memasuki prosesi utama yang berkaitan dengan roh bayi.

Sarana Upakara untuk Roh Bayi

Di natar segara, tepatnya pada area pempatan yang telah dibuat menggunakan kain putih, disiapkan sejumlah sarana upakara yang diperuntukkan bagi roh bayi.

Sarana tersebut antara lain bunga pudak, bangsah pisang, kereb sari, punjung dan banten bajang.

Berbagai sarana tersebut menjadi bagian dari kelengkapan ritual dan digunakan sesuai dengan tahapan upacara. Karena itu, pelaksanaan Pangepah Ayu tidak hanya menyangkut tempat dan waktu pelaksanaan, tetapi juga memerlukan pemahaman mengenai sarana upakara serta tata cara penggunaannya.

Jro Mangku Suardana mengingatkan, masyarakat yang hendak melaksanakan Pangepah Ayu sebaiknya mengikuti petunjuk pemangku atau sulinggih yang memuput upacara, sehingga sarana yang dipersiapkan maupun tahapan pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan sastra, desa dresta, desa kala patra dan kondisi keluarga.

Ngulapin Roh Bayi

Rangkaian berikutnya adalah prosesi ngulapin atau pengulapan roh bayi.

Untuk tahapan ini disiapkan sejumlah sarana upakara, di antaranya sorohan, pengulapan-pengambeyan, peras, Daksina, Ketipat serta kelungah nyuh gading.

Kelungah nyuh gading tersebut kemudian disurat dengan Ongkara dan digunakan sebagai genah atau tempat ngadegang roh bayi dalam rangkaian prosesi.

Setelah seluruh sarana dipersiapkan, dilanjutkan dengan pemujaan terhadap roh bayi.

Dalam prosesi tersebut dilakukan penghormatan sekaligus pengembalian roh kepada Sang Hyang Sangkan Paraning Dumadi. Secara spiritual, rangkaian ini dimaknai sebagai proses mengembalikan roh kepada asal atau sumber kehidupan.

Setelah proses pemujaan selesai, keluarga kemudian melakukan pebaktian kepada roh bayi sebagai bagian dari rangkaian Pangepah Ayu.

“Dalam prosesnya dilakukan pemujaan untuk mengembalikan kepada Sang Hyang Sangkan Paraning Dumadi. Kemudian dilakukan pebaktian agar roh bayi tersebut kembali kepada asalnya,” terang Jro Mangku Suardana.

Sarana Upacara Dihanyutkan ke Laut

Setelah seluruh rangkaian pemujaan dan pebaktian selesai, kelungah nyuh gading beserta sarana upakara yang digunakan dalam prosesi tersebut kemudian dihanyutkan ke laut.

Prosesi menghanyutkan sarana upakara tersebut menjadi bagian dari penyelesaian rangkaian Pangepah Ayu di segara.

Menurut Jro Mangku Suardana, setiap tahapan memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya. Mulai dari upacara di Kemulan, pecaruan di tempat keguguran, persiapan di segara, hingga prosesi ngulapin dan pengembalian roh.

Dengan demikian, Pangepah Ayu tidak semata-mata dipahami sebagai kegiatan menghaturkan banten, tetapi merupakan rangkaian yadnya yang memiliki tata urutan dan sarana upakara tertentu.

Pemuput Upacara

Untuk pemuput pelaksanaan Pangepah Ayu, Jro Mangku Suardana menjelaskan bahwa upacara dapat dipuput oleh pemangku yang diyakini oleh keluarga. Secara khusus, pelaksanaan juga dapat melibatkan Pemangku Khayangan Dalem atau Prajapati.

Ia menekankan, masyarakat yang mengalami peristiwa keguguran sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemangku atau tokoh agama yang memahami tata pelaksanaan upacara tersebut.

Hal itu penting karena pelaksanaan upacara yadnya di Bali tidak terlepas dari desa, kala, patra dan dresta yang berlaku di masing-masing wilayah.

“Yang menjadi perhatian bukan hanya banyak atau sedikitnya sarana upakara, tetapi bagaimana upacara tersebut dilaksanakan sesuai dengan tuntunan dan kemampuan keluarga serta tidak terlepas dari desa dresta,” jelasnya.

Menurutnya, Pangepah Ayu pada prinsipnya mengandung nilai penghormatan terhadap kehidupan dan Atma, sekaligus menjadi bagian dari upaya keluarga menyelesaikan kewajiban secara niskala terhadap janin yang mengalami keguguran.

Perbedaan Warak Keruron, Ngelangkir, Ngelungah dan Ngaben

Jro Mangku Suardana menambahkan, terdapat perbedaan mendasar antara Warak Keruron, Ngelangkir, Ngelungah dan Ngaben. Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan kondisi dan tahapan kehidupan seseorang yang meninggal, termasuk usia serta kondisi fisik dan perkembangan anak.

Keempatnya sama-sama berkaitan dengan rangkaian Pitra Yadnya, tetapi sasaran dan tata pelaksanaannya tidak sama.

1. Warak Keruron

Warak Keruron atau Pangepah Ayu ditujukan bagi janin yang mengalami keguguran sebelum lahir, baik keguguran yang terjadi secara alami maupun kondisi tertentu yang menyebabkan kandungan tidak dapat dipertahankan.

Dalam konteks upacara, pelaksanaannya berkaitan dengan penyelesaian secara niskala terhadap keguguran tersebut, termasuk penghormatan terhadap Atma serta proses pengembalian roh kepada asalnya.

Upacara ini juga berkaitan dengan kondisi cuntaka atau leteh yang menyertai keluarga akibat peristiwa keguguran dan bagaimana penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan tuntunan agama serta tradisi setempat.

2. Ngelangkir

Ngelangkir diperuntukkan bagi bayi yang meninggal dunia setelah lahir tetapi masih berada dalam masa awal kehidupannya, khususnya sebelum tali pusar putus atau lepas.

Dalam sejumlah tradisi dan sumber yang menjadi pedoman masyarakat Hindu Bali, batasan mengenai usia atau kondisi bayi dapat memiliki perbedaan. Karena itu, pelaksanaan Ngelangkir perlu mengikuti petunjuk sastra dan pemangku atau sulinggih yang memuput.

Secara umum, Ngelangkir merupakan bentuk penyucian dan penghormatan terhadap bayi yang meninggal pada usia sangat dini.

3. Ngelungah atau Nglungah

Ngelungah atau Nglungah ditujukan bagi anak yang telah melewati masa bayi awal, yakni setelah tali pusar lepas, tetapi belum mengalami tanggal gigi susu.

Istilah Ngelungah berkaitan dengan penggunaan klungah atau kelapa muda sebagai salah satu simbol penting dalam sarana upacaranya.

Tahapan tersebut menunjukkan adanya perbedaan perlakuan dalam Pitra Yadnya berdasarkan tingkat perkembangan fisik dan kehidupan anak yang meninggal.

4. Ngaben atau Pitra Yadnya

Sementara Ngaben merupakan salah satu bentuk upacara Pitra Yadnya yang secara umum dilaksanakan terhadap seseorang yang telah meninggal dunia, khususnya mereka yang telah memasuki tahapan kehidupan yang lebih lanjut.

Dalam konteks anak, pelaksanaan dan ketentuan upacaranya juga mengikuti perkembangan serta kondisi anak tersebut, termasuk ketentuan mengenai telah atau belum tanggalnya gigi.

Secara umum, Ngaben berkaitan dengan proses pengembalian unsur-unsur pembentuk badan fisik, yaitu Panca Maha Bhuta, kepada alam semesta. Upacara tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian penyucian dan penghormatan terhadap Atma.

Jro Mangku Suardana menjelaskan, perbedaan tersebut penting dipahami masyarakat agar tidak menyamakan seluruh upacara terhadap orang yang meninggal.

“Jadi, Warak Keruron, Ngelangkir, Ngelungah dan Ngaben memiliki sasaran dan ketentuan yang berbeda. Hal itu berkaitan dengan usia, kondisi dan tahapan kehidupan dari janin atau anak yang meninggal,” jelasnya.

Memahami Yadnya Tidak Hanya dari Banyaknya Banten

Lebih jauh, Jro Mangku Suardana menegaskan bahwa pemahaman terhadap upacara yadnya tidak semata-mata diukur dari banyaknya sarana atau besarnya banten yang digunakan.

Hal yang tidak kalah penting adalah memahami tujuan, makna, tata urutan serta fungsi dari setiap sarana upakara yang digunakan.

Dalam pelaksanaan Warak Keruron atau Pangepah Ayu, misalnya, terdapat rangkaian yang dimulai dari Kemulan, Guru Piduka, pecaruan Sapuh Awu di tempat keguguran, persiapan pempatan agung di segara, penggunaan berbagai sarana untuk roh bayi, proses ngulapin, pemujaan, pebaktian hingga penghanyutan sarana upakara ke laut.

Seluruh rangkaian tersebut menjadi satu kesatuan dalam pelaksanaan upacara.

Karena itu, masyarakat yang hendak melaksanakan upacara sebaiknya mendapatkan tuntunan dari pemangku, sulinggih atau tokoh agama yang memahami pelaksanaan yadnya sesuai sastra dan tradisi yang berlaku.

Dengan pemahaman tersebut, Pangepah Ayu tidak hanya menjadi sebuah ritual, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan kepada kehidupan, Atma dan keluarga, sekaligus upaya menjalankan kewajiban keagamaan secara tulus dan sesuai dengan kemampuan.

“Yang terpenting adalah memahami makna dan tujuan upacaranya. Pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan sastra, desa kala patra, desa dresta dan kemampuan keluarga,” pungkas Jro Mangku Suardana. (!)

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250