Terkuak! Sindikat ‘Aspal Kencing’ di Bali Barat Dibongkar, Marketing PT MTP BWI Diduga Terlibat

Ket Foto: Tumpukan drum aspal curah ilegal yang Diduga bersumber dari PT. MTP BWI.

JEMBRANA – Praktik ilegal penggelapan aspal curah yang dikenal dengan istilah ‘aspal kencing’ di wilayah Bali Barat akhirnya terkuak. Penelusuran tim redaksi, yang berawal dari informasi dan unggahan viral di media sosial, berhasil membongkar dugaan praktik curang yang melibatkan armada truk tangki dari PT. MTP BWI Group.

Dugaan praktik ‘aspal kencing’ ini ditemukan di dua lokasi yaitu di Sumbersari, Desa Melaya, Jembrana, dan kawasan Terminal Cargo Gilimanuk. Penelusuran dimulai pada Minggu (26/10) sore di wilayah Sumbersari, Desa Melaya, Jembrana. Setelah menyisir lokasi yang dicurigai, tim berhasil menemukan sebuah lahan kebun milik warga yang dijadikan tempat penampungan aspal curah ilegal.

banner 728x250

Di lokasi tersebut, tim mendapati ratusan drum aspal curah dalam kondisi berisi dan kosong. Lokasi penemuan tepatnya sekitar 100 meter sebelah barat Tugu Sumbersari, di utara jalan raya.
Dari keterangan seorang warga setempat yang sedang memberi makan ternak, terungkap bahwa aspal curah dalam drum itu milik inisial R, yang tinggal di Kota Negara. Warga tersebut juga membeberkan bahwa R mendapatkan suplai aspal curah setiap minggunya dari truk tangki asal Jawa.

“Praktik ini sudah berlangsung lama. Dari satu truk tangki, R bisa mendapatkan 5 sampai 10 drum aspal curah,” kata warga tersebut yang enggan namanya disebutkan, namun mengaku tidak mengetahui identitas pemilik truk tangki.

Diduga ‘Kencing’ di Terminal Cargo Gilimanuk, Bukti Segel PT MTP BWI Ditemukan

Penelusuran berlanjut ke Terminal Cargo Gilimanuk. Di kawasan ini, kecurigaan praktik ‘aspal kencing’ terbukti benar. Tim menemukan sejumlah tumpukan drum aspal curah berisi penuh. Selain itu, ditemukan juga empat unit truk tangki pengangkut aspal curah yang terparkir, bertuliskan PT. MTP Group.

Ket Foto: Timbunan drum aspal curah di area parkir kargo gilimanuk.

Tim kemudian melakukan pemantauan tertutup. Sekitar pukul 17.30 WITA, sebuah mobil pikap putih memasuki areal terminal cargo dan menurunkan drum-drum kosong. Setelah dipantau beberapa saat, ternyata drum-drum kosong itu sudah terisi penuh aspal curah yang kondisinya masih hangat, ditutup menggunakan terpal, kayu bekas palet, dan ban mobil bekas.

Pada Senin (27/10) malam, tim akhirnya bertemu dengan pihak PT. MTP BWI Group, diwakili oleh Didik yang mengaku sebagai marketing bersama tiga stafnya.

Sempat terjadi perdebatan sengit. Didik yang awalnya menuding tim redaksi sebagai pembuat unggahan viral dan mengancam akan menuntut, akhirnya terdiam saat tim redaksi mengajaknya mengecek langsung lokasi penimbunan drum aspal di Terminal Cargo Gilimanuk.

Saat pengecekan bersama, tim justru mendapati satu unit mobil pikap sedang menaikkan barang bukti berupa kayu bekas palet, terpal, dan ban mobil bekas penutup drum. Yang paling mencengangkan, ditemukan bekas segel truk pengangkut aspal curah yang berserakan, dan sangat jelas bertuliskan PT. MTP BWI.

Dengan bukti segel PT. MTP BWI yang berserakan, Didik akhirnya tidak dapat membantah keterlibatan armada perusahaannya.

Setelah tak bisa mengelak, Didik, sang Marketing PT. MTP BWI, justru ‘keceplosan’. Dia mengaku sudah mengetahui praktik ‘aspal kencing’ ini sejak lama dan bahkan menyebutkan dua inisial penadah di Bali Barat yaitu K dan R.

Didik juga menyebutkan alamat tinggal kedua penadah tersebut, dan menyebut mereka sebagai ‘pemain lama’.

Pengakuan ini menimbulkan dugaan kuat bahwa Didik sebagai Marketing PT. MTP BWI turut terlibat dalam jaringan praktik ilegal ‘aspal kencing’ tersebut. Praktik yang berlangsung lama dengan adanya ‘pemain lama’ mengindikasikan adanya perlindungan atau keterlibatan orang dalam perusahaan.

Di akhir pertemuan, setelah menyampaikan permohonan maaf dan berjanji akan melakukan evaluasi, Didik berupaya menyalami salah satu anggota tim redaksi sambil menyelipkan amplop coklat yang diduga berisi sejumlah uang, dengan dalih uang bensin. Tim redaksi kompak menolak upaya dugaan suap tersebut dan aksi penolakan ini sempat direkam sebagai bukti.(Sis)

 

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250