JEMBRANA – Event berselancar Medewi Board Riders (MBR) Challenge kembali digelar di Pantai Medewi, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali, setelah sempat vakum selama empat tahun. Ajang ini disambut antusias oleh 192 peselancar (surfer) dari berbagai daerah di Indonesia.
Berdasarkan pantauan, Minggu (9/8), kawasan Pantai Medewi dipadati wisatawan lokal hingga mancanegara. Peserta yang berpartisipasi pun bervariasi, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Ketua Panitia MBR Challenge, Heri Hervian (33), mengungkapkan bahwa 192 peserta yang berpartisipasi tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga dari luar pulau seperti Nias, Sumbawa, Medan, hingga Jawa.
“Ada lima kategori dalam event tersebut, di antaranya kategori grommet usia 14 tahun ke bawah, junior usia 18 tahun ke bawah, open division 35 tahun ke bawah, master division 40 tahun ke atas, dan longboard,” ujar Heri saat ditemui.
Heri menjelaskan, kejuaraan ini berlangsung selama dua hari. Babak penyisihan telah dilaksanakan sejak Sabtu, sedangkan hari kedua diisi dengan babak final untuk menentukan empat juara di masing-masing kategori.
“Board Riders Challenge ini harapannya bisa bergulir rutin seperti beberapa tahun sebelumnya. Sempat vakum selama empat tahun karena kekurangan anggaran. Semoga tahun depan anggaran dari pemerintah ada, terlebih event ini masuk dalam daftar peringatan HUT Kota Negara, jadi harapannya bisa terus terlaksana setiap tahun,” jelas Heri.
Ia menambahkan, kehadiran event ini memberikan dampak positif bagi perekonomian warga di sekitar kawasan Medewi, di mana aktivitas ekonomi mencatatkan peningkatan dibandingkan hari biasa.
Mengenai daya tarik lokasi, Heri membeberkan alasan wisatawan mancanegara sangat menyukai karakter ombak di Pantai Medewi. Salah satunya karena tempat ini dikenal memiliki julukan ombak kiri/samping terpanjang di Bali.
“Di Medewi ini ombaknya dijuluki ombak terpanjang di Bali, bisa sekitar 100 meter lebih. Kecepatan ombaknya medium, jadi mudah diambil dan dipakai manuver. Paling gampang dibanding tempat lain, hanya saja kesulitannya saat air surut karena pantainya berbatu sehingga harus hati-hati,” paparnya.
Adapun kriteria penilaian dalam kompetisi ini meliputi kelincahan peselancar di atas papan, ketahanan durasi di atas ombak, serta kekuatan (power) saat bermanuver.
Keseruan event ini turut dirasakan oleh salah satu peserta, Dhea Natasya (25). Peselancar yang sudah menjajal berbagai ombak di luar negeri—seperti Ekuador, Australia, hingga Jepang—mengaku sangat menikmati ombak di Pantai Medewi.
“Dari umur 9 tahun saya sudah mulai surfing. Di Medewi ombaknya bagus sekali, saya suka ikut kontes di sini karena ombaknya panjang. Cuma kendalanya di angin saja, tapi kalau tidak ada angin, ombaknya bagus sekali,” kata wanita yang kini menetap di Bali tersebut.
Dhea mengaku ini merupakan kali keempat dirinya mengikuti kompetisi di Medewi. “Mudah-mudahan event ini bisa terus bergulir untuk ke depannya,” pungkasnya.(Sis)







