Sempat Ditertawakan, Ramalan Gus Dur Kini Terbukti, Pria Ini Jadi Kapolri

Kisah ini menarik dan cukup inspirasi mengenai Gus Dur dan ajudannya selama menjabat Presiden RI.
Saat itu Gus Dur berkata kepada Sutarman, ajudannya dari perwira polisi.

“Nanti Pak Tarman akan jadi Kapolda Metro, setelah itu Pak Tarman akan menjadi Kapolri,” kata Gus Dur.

banner 728x250

Mendengar ucapan Gus Dur, Pak Sutarman hanya tertawa. Ia mengganggap itu tidak akan terjadi

Bahkan bermimpi menjadi Kapolri-pun belum pernah.

Namun, sejarah membuktikan ‘terawangan’ Gusdur itu bena dikemudian hari.

Tepat pada 23 Oktober 2013, Jenderal Polisi Sutarman resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Setelah era Presiden Joko Widodo, 9 bulan jelang pensiun Kapolri Sutarman diganti oleh Jenderal Badrodin Haiti.
Sosok Kapolri Jenderal Sutarman

Jenderal Sutarman dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY pada 25 Oktober 2013.

Dia merupakan mantan ajudan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Saat purna bakti, Jenderal (Purn) Sutarman memilih pulang dan hidup di kampung halamannya di Jawa Tengah.

Sebenarnya Presiden Jokowi telah mengajaknya untuk mengisi beberapa posisi dalam pemerintahan, salah satunya sebagai duta besar.
Namun, dia mengaku tak tertarik lagi mengisi jabatan di pemerintahan dan mengaku ikhlas dengan keputusan sang presiden. Jenderal (Purn) Sutarman lebih memilih menjadi petani membantu ayahnya.

“Saya loyal 100 persen pada presiden apapun yang diputuskan, bahkan sampai beliau menawari saya beberapa jabatan. Saya katakan saya akan pensiun menikmati sisa-sisa hidup ini. Saya bilang ke Presiden akan bantu bapak saya bertani,” kata Jenderal (Purn) Sutarman saat baru saja dicopot.

Sutarman sama kariernya dengan Komjen Listyo Sigit Prabowo dan Jenderal Idham Azis, menjabat Kabareskrim sebelum akhirnya diangkat jadi Kapolri.

Pilihan menjadi petani juga kini dilakoni mantan Kabareskrim lainnya, Komjen (Purn) Susno Duadji.

Purnawirawan Polri yang sempat membuat kontroversi dengan KPK itu kini menggarap lahan di kampung halamannya di Pagaralam, Sumatera Selatan.

Darah polisi sama sekali tak pernah mengalir dalam pohon keluarga Jenderal (Purn) Sutarman.
Di keluarganya, dia satu-satunya orang yang terjun ke dunia kepolisian.

Jenderal (Purn) Sutarman bertutur, dirinya melewati awal kariernya dengan susah payah. Sebagai anak petani, Jenderal (Purn) Sutarman mengaku hidup penuh dengan kesulitan.

“Saya berasal dari keluarga petani miskin, tapi hal itu yang membuat kami sekeluarga menjadi sosok pekerja keras di Sukoharjo,” tutur Sutarman saat berbincang dengan Komisi III DPR di kediamannya, kawasan Bintanto, Tangerang Selatan, Rabu (9/10/2013).

Anak sulung dari lima bersaudara itu mengaku, saat baru menjadi polisi, dia harus menanggung biaya sekolah keempat adiknya.
Saat melamar sang istri, Elly Sugiarti, Sutarman pun memberitahukan sejak awal tentang kewajibannya menghidupi adik-adiknya itu.
Dia berharap agar Elly tidak meminta kehidupan yang berlebih lantaran gaji Rp 90.000 yang dimiliki Sutarman dianggapnya pas-pasan ketika itu.

“Saya hanya minta dia untuk bisa hidup di asrama, dan bisa membagi gaji saya. Gaji sebesar Rp 90.000 ketika itu saya minta agar dikelola dengan baik agar cukup untuk biaya makan, biaya hidup, biaya adik-adik saya, bagaimana itu caranya harus cukup,” ungkap Sutarman.

Sejak berkarier di dunia kepolisian pada tahun 1982, Sutarman sudah malang melintang menjabat sebagai anak buah bawahan, hingga dipercaya sebagai ajudan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid.

Sutarman juga dipercaya sebagai Kapolda Riau, Kapolda Jawa Barat, Kapolda Metro Jaya, dan kini Kabareskrim.

Dari tempat tinggal hanya di asrama, Sutarman pun pelan-pelan mengumpulkan kekayaannya.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tanggal 1 Maret 2012, Sutarman diketahui memiliki total kekayaan sebesar Rp 5,3 miliar plus 24.000 dollar AS.

Salah satu harta kekayaan yang dimilikinya adalah rumah luas di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.

“Sejak kecil, saya bekerja keras dan menabung sedikit demi sedikit sehingga punya tempat ini. Begitu pindah ke Jakarta, rumah ini selalu saya tempati karena dibangun dengan susah payah. Rumah ini dulunya adalah tempat jin buang anak. Jadi ini agak lebih besar dibandingkan rumah yang lain karena saya dekat dengan masyarakat Betawi di sini, karena sampingnya ini tanah kampung,” ujar Sutarman.

Beranjak dari kehidupan sederhana, Sutarman menceritakan dirinya juga mengajari ketiga anaknya hidup sederhana.

Setiap berulang tahun, Sutarman mengajak anak-anaknya ke panti asuhan.

“Saya tidak mau mereka nanti dianggap sok, atau mentang-mentang anaknya polisi dan sebagainya,” kata dia.
Kenangan Bersama Gus Dur

Sejumlah orang penting hadir dalam kegiatan Haul Gus Dur ke-4 yang diselenggarakan di kediaman Presiden ke-4 RI (alm) Abdurrahman Wahid di Ciganjur, Jakarta pada Sabtu (28/12/2013) lalu.

Salah satu tamu penting tersebut yakni Kapolri Jenderal Pol Sutarman.

Sutarman merupakan ajudan Gus Dur ketika masih menjabat sebagai presiden dahulu.

Orang nomor satu di korps Bhayangkara ini mengaku mendapatkan banyak pelajaran selama menjadi ajudannya. Salah satu hal yang tak dapat dilupakan Sutarman adalah acapkali Gus Dur mengawali pidatonya. Sutarman mengatakan, Gus Dur tak pernah mengucapkan kalimat ‘mari kita panjatkan puji dan syukur’.

Ia pun menanyakan hal ini kepada Gus Dur. “Pak Tarman, Puji dan Syukur itu sudah bisa manjat sendiri. Jadi enggak perlu dipanjatin,” kata Sutarman menirukan jawaban Gus Dur saat itu.

Perkataan Sutarman kemudian disambut gelak tawa oleh para Gusdurian, sebutan bagi pendukung Gus Dur.
Sutarman mengatakan, hingga saat ini akhirnya ia tak pernah menggunakan kalimat tersebut untuk mengawali pidato.

Selain itu, ia menambahkan, Gus Dur pernah berkata bahwa ia kelak akan menjadi Kapolda Metro Jaya dan kemudian menjadi Kapolri.
Sutarman mengaku, ia tak pernah bermimpi untuk dapat menduduki jabatan tersebut. Namun pada akhirnya, hal itu menjadi kenyataan.
Lima tahun setelah Gus Dur lengser, Sutarman diangkat menjadi Kapolda Kepulauan Riau.

Jabatan tersebut ia duduki selama tiga tahun lamanya. Setelah itu, karir Sutarman terus meningkat.
Pada tahun 2008, ia diangkat menjadi Kaselapa Lemdiklat Polri. Seterusnya, ia kembali diangkat menjadi Kapolda Jawa Barat, Kapolda Metro Jaya, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, dan akhirnya pada 2013 dilantik menjadi Kapolri.

“Sayang, sampai Gus Dur meninggal dunia, ia tidak pernah menyebutkan saya akan menjadi presiden,” selorohnya yang kembali disambut gelak tawa para tamu.

Selain Sutarman, sejumlah tamu penting juga turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Wakil Dubes AS untuk Indonesia Kristen Bauer, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. Ada pula juga Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, tokoh agama Frans Magnis Suseno, dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250