Jembrana – Pemerintah Kabupaten Jembrana kembali menggelar kegiatan Metatah/Mepandes Massal Tahun 2026 pada Sabtu (22/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Wantilan Pura Dang Kahyangan Gede Perancak ini menjadi bagian dari pelaksanaan yadnya yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bersama Majelis Desa Adat (MDA) dan Peradah Kabupaten Jembrana.
Berdasarkan dudonan acara, rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan Ngekeb Upakara Banten Ancak Bingin bagi peserta yang mengikuti Metatah atau Mepandes.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Jembrana, Forkopimda, Majelis Desa Adat, tokoh agama, pemangku, prajuru adat, peserta yadnya serta masyarakat.
Dalam laporannya, Ketua Peradah Jembrana, Anak Agung Bagus Hendra Sugihantara Putra, S.Pd., mewakili Ketua Panitia menyampaikan, kegiatan Metatah Massal Pemerintah Kabupaten Jembrana Tahun 2026 mendapat antusiasme masyarakat.
“Ada sebanyak 172 pendaftar tercatat melalui Google Form, terdiri atas 45 peserta Metatah Massal, 28 peserta Metutug Kelihan, 27 peserta Mepetik/Metelubulanan dan 143 peserta Pemarisudamala/Ruwatan Mala. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian peserta mengikuti lebih dari satu jenis rangkaian yadnya,” paparnya.
Sementara itu, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Jembrana, I Ketut Armita, SH., MH., menyampaikan rasa syukur karena seluruh peserta dapat berkumpul untuk melaksanakan yadnya di tempat suci tersebut.
Bupati mengatakan, pelaksanaan Metatah/Mepandes, Metutug Kelihan atau Ngeraja Sewala, Mepetik serta Pemarisudamala atau Ruwatan Mala merupakan bentuk pelaksanaan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus wujud perhatian terhadap kehidupan keluarga dan anak-anak.
“Pelaksanaan upacara ini merupakan bentuk sradha dan bhakti serta tanggung jawab kita sebagai orang tua kepada anak. Melalui yadnya ini, kita berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi suputra,” demikian inti sambutan Bupati yang dibacakan I Ketut Armita.
Bupati juga mengingatkan agar pelaksanaan yadnya senantiasa berpedoman pada sastra dan dresta serta dilaksanakan dengan ketulusan hati. Selain itu, berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat hendaknya diselesaikan dengan semangat saling asah, saling asih, saling asuh, paras-paros, sarpanaya, gilik saguluk dan salunglung sabayantaka.
Menurutnya, Metatah atau Mepandes memiliki makna penting dalam kehidupan umat Hindu. Upacara tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki nilai pembentukan karakter anak agar mampu mengendalikan Sad Ripu dan tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Sementara Pemarisudamala atau Ruwatan Mala dimaknai sebagai upaya penyucian diri dari berbagai mala atau kekotoran dalam diri.
“Sebagai Murdhaning Jagat Jembrana, saya akan terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program-program yang telah berjalan dan masih dirasakan manfaatnya akan tetap dilanjutkan. Namun, jika masih terdapat hal-hal yang perlu disempurnakan, kami memohon dukungan dan masukan dari seluruh masyarakat,” ujar Bupati dalam sambutannya.
Bupati berharap keberadaan program tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat, terutama dalam pembiayaan pelaksanaan upacara, sekaligus memperkuat rasa pasemetonan di tengah masyarakat Jembrana.
“Semoga melalui program ini dapat meringankan biaya dan semakin memperkuat rasa persaudaraan kita, sehingga Jembrana semakin baik,” lanjutnya.
Di akhir sambutannya, Bupati Jembrana menyampaikan harapan agar pelaksanaan yadnya di Pura Dang Kahyangan Gede Perancak memberikan kerahayuan, kesehatan, keselamatan dan kedhirgayusan bagi seluruh masyarakat.
Usai sambutan, juga dilaksanakan penyerahan bantuan sembako kepada para pemangku Kahyangan sebagai bentuk perhatian dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan di Pura Dang Kahyangan Gede Perancak.
Dalam kesempatan itu, juga diisi sesi Dharma Wacana terkait pelaksanaan upacara yadnya ini oleh Ketua PHDI Jembrana, I Wayan Windra, S.Ag
Kepala Bidang Adat Tradisi dan Warisan Budaya (ATBW) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, I Gede Suartana, SE., MM., seizin Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana mengatakan, kegiatan Metatah Massal tersebut dilaksanakan secara gratis bagi masyarakat peserta.
Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menganggarkan dana sebesar Rp200 juta untuk kegiatan tersebut sebelum dipotong pajak.
“Dalam pelaksanaannya, peserta tidak dikenakan biaya. Peserta hanya diminta membawa satu banten pejati per kepala keluarga (KK) serta tirta dari merajan masing-masing,” ungkap Suartana.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Upacara Mepandes, termasuk upakara arepan nyangih bagi peserta yang mengikuti Metatah/Mepandes.
Di sisi lain, juga dilaksanakan upacara bagi seluruh peserta yang mengikuti rangkaian Metutug Kelihan, Mepetik/Metelubulanan dan Pemarisudamala atau Ruwatan Mala.
Pada pukul 10.00 WITA dilaksanakan Mepasaran di Catus Pata Pura Luhur Dang Kahyangan Gede Perancak sebagai bagian dari Upakara Suci Soroh. Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut meliputi peserta Mepandes/Metatah, Metutug Kelihan, Mepetik/Metelubulanan serta Pemarisudamala atau Ruwatan Mala.
Selanjutnya pada pukul 12.00 WITA, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sejumlah upakara, antara lain Metelubulanan/Mepetik, Bebangkit Mungkul Gayah Tenggek Gayah Gruda, Metutug Kelihan, Upakara Banten Ancak Bingin, Oton Pesangihan, Pemarisudamala atau Ruwatan Mala, Upakara Sapuh Lara Melaradan, Upakara Caru dan Pengimpas Baya.
Rangkaian kegiatan tersebut dipuput oleh empat Sulinggih dari masing-masing wangsa, yakni Ida Pedanda Gede Ketut Putra Kemenuh, Ida Sri Mpu Rastra Kertha Yoga, Ida Shri Bhegawan Jaya Waringin dan Ida Rsi Agung Putra Pinatih.
Metatah atau Mepandes Massal Pemerintah Kabupaten Jembrana Tahun 2026 menjadi salah satu bentuk nyata fasilitasi pemerintah dalam mendukung pelaksanaan yadnya masyarakat.
Selain meringankan beban biaya peserta, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum memperkuat kebersamaan antara pemerintah, desa adat, tokoh agama, pemangku, serati, prajuru adat, generasi muda dan masyarakat dalam menjaga tradisi serta nilai-nilai agama dan budaya Bali.
Melalui pelaksanaan yadnya secara bersama-sama, diharapkan rasa persaudaraan dan pasemetonan masyarakat semakin kuat, sejalan dengan semangat pembangunan Jembrana menuju masyarakat yang sejahtera, harmonis dan berlandaskan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal. (!)







