JEMBRANA – Antrean panjang kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, memakan korban. Sebuah truk tronton bernomor polisi B 9177 BEU menabrak pohon perindang di kawasan Hutan Cekik, tepatnya di sebelah Monumen Lintas Laut Gilimanuk, Minggu (27/9) sekitar pukul 02.30 WITA.
Insiden tersebut terjadi akibat sang sopir kaget saat dibangunkan ketika antrean mulai mengalir. Dalam kondisi panik, sopir yang sebelumnya tertidur saat menunggu antrean justru keliru menginjak pedal gas hingga kendaraan hilang kendali dan menabrak pohon di pinggir jalan.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk AKP Gusti Kade Alit Murdiasa membenarkan peristiwa kecelakaan tunggal tersebut. Pihaknya langsung berkordinasi dengan Brimob untuk mengevakuasi kendaraan dan material kayu yang sempat menutupi badan jalan.
“Benar telah terjadi truk menabrak pohon perindang sekitar pukul 02.30 WITA. Kita segera berkoordinasi dengan Batalyon C Pelopor Gilimanuk Satbrimobda Bali untuk bantuan evakuasi,” ungkap Alit Murdiasa saat dikonfirmasi, Minggu (27/9).
Alit menambahkan, petugas gabungan bergerak cepat agar arus lalu lintas yang sedang padat tidak semakin parah.
“Truk sudah bisa dievakuasi dan pembersihan material juga sudah dilakukan. Kami harapkan untuk pengendara untuk bersabar dan mematuhi arahan petugas,” imbuhnya.
Dampak Blokade dan Penyesuaian Muatan di Ketapang
Peristiwa ini makin memperburuk arus lalu lintas di jalur Denpasar-Gilimanuk yang sudah mengular sejak Sabtu (26/9) siang. Antrean kendaraan dari arah Pelabuhan Gilimanuk dilaporkan membentang hingga sekitar 6,6 kilometer sampai ke kawasan Hutan Cekik.
Kondisi penumpukan ini dipicu oleh aksi blokade pengemudi truk di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, sejak Sabtu sore. Tak sedikit sopir truk yang terpaksa menggelar tikar di tengah jalan karena kendaraan tertahan berjam-jam tanpa pergerakan.
Bambang (46), salah seorang sopir truk, mengaku sudah terjebak di Hutan Cekik sejak Sabtu sore.
“Antrean terjadi tadi siang, dan sekitar pukul 15.00 WITA sudah tidak ada pergerakan sekali. Saya sudah tertahan dari sore tadi belum juga masuk kapal. Infonya ada blokade sopir di Ketapang,” kata Bambang, Sabtu malam.
Sopir lainnya, I Putu Eka Juliawan (25), menceritakan aktivitas pelayaran dari Ketapang menuju Gilimanuk baru mulai berangsur pulih pada Sabtu malam.
“Sekitar pukul 15.00 WITA sudah antre dan tidak ada kejelasan. Berjam-jam antre di Ketapang. Ini tadi sekitar pukul 21.00 WITA baru ada kapal yang berangkat,” papar pengangkut pupuk tersebut.
Terpisah, Manager Humas PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Bintang Felfian, menjelaskan aksi protes pengemudi terjadi di pintu keluar Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 15.15 WITA. Aksi dipicu oleh kebijakan penyesuaian muatan kapal demi keselamatan pelayaran.
“Aksi tersebut dipicu dinamika operasional menyusul adanya penyesuaian muatan kapal oleh KSOP Tanjung Wangi demi keselamatan pelayaran, termasuk pengaturan muatan kapal LCT yang terdiri dari truk besar dan sedang,” jelas Bintang.
Penyesuaian muatan tersebut dilakukan mengacu pada rilis BMKG Stasiun Meteorologi Banyuwangi–Pelabuhan Ketapang terkait peringatan dini cuaca ekstrem. BMKG mencatat potensi angin kencang hingga 10–15 knots dari arah utara serta arus laut kuat berkecepatan di atas 1,2 meter per detik.







