Isu beredarnya beras plastik di pasar Tanah Air membuat heboh di tengah masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Halal Center Universitas Gadjah Mada Nanung Danar Dono memberikan penjelasan.
Menurutnya, beras dari plastik mustahil bisa mengembang atau berubah wujud menjadi nasi ketika dikukus.
Ia menjelaskan bahwa polimer plastik hanya akan berubah menjadi plastik panas saat dikukus atau dipanaskan.
Bahkan, lanjutnya, jika terlalu panas dia akan mengkerut bukan malah mengembang.
“Begitu pula dengan beras plastik komersial. Jika memang benar ada, maka saat dipanaskan ia hanya akan berubah menjadi beras plastik panas, bukan berubah menjadi nasi,” jelasnya, seperti dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (17/10/2023).
Hal tersebut, kata dia, terutama terjadi pada kandungan amilopektin dan amilosa.
Contoh jenis beras yang memiliki kandungan amilopektin dan amilosa tinggi adalah beras ketan atau gluten rice atau sticky rice.
Itulah sebabnya, lempar akan lebih liat saat digigit karena terbuat dari beras ketan.
Berbeda dengan arem-arem yang terbuat dari beras biasa.
Di samping itu, Nanung menuturkan bahwa industri nasi palsu, telur palsu, ikan (tempura) palsu, kobis palsu, dan sayur palsu memang ada.
Biasanya ada di negara China dan Jepang di mana produk tersebut hanya sebatas sebagai bahan display menu masakan di depan restoran siap saji dan bukan untuk dikonsumsi.
Nanung mengatakan restoran yang memajang menu masakan dengan produk semacam itu sering ditemui di Jepang, China, dan Thailand.
Jadi beras plastik hanya sebuah istilah dan merupakan butiran plastik saja sehingga tidak bisa disebut sebagai beras.
Sementara itu, melansir dari laman dtphp Luwu, ada juga beras asli tapi palsu yang pernah beredar di masyarakat.
Beras jenis itu merupakan gabungan kentang, ubi jalar, serta limbah plastik yang direkayasa sedemikian rupa hingga berbentuk seperti beras.
Kemudian produsen beras palsu ini juga menambahkan resin sintetis industri yang sangat berbahaya jika dikonsumsi karena bisa memicu kanker.
Adapun biaya produksi beras palsu yang rendah dikhawatirkan menarik pedagang grosir untuk menjualnya secara massal agar bisa meraih keuntungan lebih besar.
Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan agar tidak menjadi korban beras palsu.
Berikut perbedaan beras asli dengan beras asli tapi palsu (aspal):
Beras Asli
– Ukuran beras lebih gemuk ada guratan
– Beras asli tampak bening namun terdapat warna putih susu di tengah-tengahnya
– Tekstur cenderung kasar saat dipegang
– Beras asli akan menyerap air saat dimasak
– Jika dimasukkan ke penanak nasi, tekstur akan berubah jadi lembut
– Saat dimasak akan mengeluarkan aroma harum karena HO2
– Sesudah dimasak akan terasa manis saat dimakan karena kandungan glukosa dan karbohidratnya
– Ditempel dengan setrika tidak lengket dan tidak berbau
– Beras asli tidak meleleh kalau dibakar
– Beras asli direndam dalam air maka airnya akan berwarna lebih putih.
Beras Aspal
– Ukuran beras lebih ramping tidak ada guratan
– Ciri ciri beras aspal sintetis warnanya bening
– Tekstur lebih halus dan lembut karena berbahan plastik
– Sedangkan beras palsu malah akan mengeluarkan air saat dimasak
– Beras palsu akan lembek saat dimasukkan ke penanak nasi dan cenderung keras, saat dikeluarkan akan semakin kering dan mengeras
– Beras aspal mengeluarkan aroma sangit saat dimasak
– Cenderung berbau sangit dan beraroma bahan kimia
– Ditempel dengan setrika beras lengket dan berbau sangit
– Beras aspal dibakar akan meleleh seperti plastik
– Beras palsu airnya tidak akan berwarna putih (!)







