Ngawi – Pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Ngawi ternyata belum sepenuhnya mampu menahan minat warga untuk bekerja di luar negeri. Di tengah berdirinya sejumlah pabrik baru, ratusan warga justru memilih merantau sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Data Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Kabupaten Ngawi mencatat hingga 20 Mei 2026 sebanyak 523 warga diberangkatkan ke luar negeri untuk bekerja, mayoritas menuju Hongkong dan Malaysia.
Kepala Bidang Tenaga Kerja DPPTK Ngawi, Supriyadi, mengatakan sebagian besar PMI asal Ngawi berasal dari kelompok usia di atas 30 tahun. “Yang paling banyak usia 30 tahun ke atas,” ujar Supriyadi, Senin (25/5/2026).
Fenomena tersebut muncul di tengah berkembangnya investasi industri di Ngawi. Saat ini tercatat ada 16 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang telah beroperasi di wilayah tersebut.
Keberadaan perusahaan-perusahaan itu diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“PMA yang sudah beroperasi ada 16 perusahaan,” katanya. Selain perusahaan yang telah beroperasi, terdapat pula empat perusahaan lain yang masih berada pada tahap pembangunan.
“Setahu saya ada empat, karena kalau masih proses pembangunan belum masuk data di kami,” tambahnya. Meski sektor industri terus berkembang, sebagian warga dinilai masih melihat pekerjaan di luar negeri sebagai pilihan yang lebih menjanjikan dari sisi pendapatan. Terutama bagi masyarakat usia produktif yang sebelumnya telah memiliki pengalaman bekerja sebagai PMI.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah agar pertumbuhan investasi industri dapat diikuti dengan peningkatan kualitas tenaga kerja lokal dan kesejahteraan masyarakat. (%)







