JEMBRANA – Antrean panjang kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk yang dipicu revitalisasi Movable Bridge (MB) 2 terus berbuntut panjang. Banyak bus dan truk logistik nekat menerobos jalur gang sempit di permukiman padat penduduk Kelurahan Gilimanuk demi memotong antrean.
Aksi nekat pengemudi kendaraan besar ini tak hanya memicu protes keras, tetapi juga merusak bangunan warga. Sebuah bus berukuran besar menabrak atap bagian depan warung milik Pak Suroso di Gang I, Lingkungan Arum Barat, pada Selasa (15/9) petang.
“Benar kemarin warung milik lansia bernama Suroso ditabrak bus. Bus saat ini nekat masuk gang untuk menghindari antrean menuju pelabuhan,” kata Lurah Gilimanuk Ida Bagus Tony Wirahadikusuma saat dikonfirmasi, Rabu (16/9).
Tony membenarkan banyaknya keluhan warga akibat lalu-lalang kendaraan berat di permukiman mereka. Selain membahayakan keselamatan karena melaju kencang, polusi debu, asap kendaraan, hingga sampah yang ditinggalkan sangat mengganggu kenyamanan.
“Sangat mengganggu keselamatan dan kenyamanan warga. Banyak debu, asap, dan warga kesulitan saat mau menggunakan jalan gang,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, melintasnya kendaraan bermuatan tinggi dan lebar tersebut juga memicu serangkaian kerusakan fasilitas di area permukiman.
“Banyak kerusakan yang dialami warga, di antaranya kabel WiFi yang putus, tanaman tersenggol, dan sampah berserakan. Bahkan sampai ada warung warga yang ditabrak,” tambah Tony.
Ia menceritakan, pemilik warung yang ditabrak merupakan warga miskin kategori Desil 1. Korban mengalami kerugian materiil sekitar Rp 500 ribu. Beruntung, pihak pengurus bus bertindak kooperatif dan langsung memberikan ganti rugi.
Tony menegaskan, penumpukan kendaraan harian imbas proyek peningkatan kapasitas dermaga membuat pengemudi terus berspekulasi mencari jalan pintas yang tidak sesuai peruntukannya.
“Selama ada kemacetan menuju pelabuhan, kendaraan besar seperti bus terus ada yang masuk ke gang. Warga di sana protes. Parahnya, saat warga selesai merabat jalan di sisi gang, jalan kembali hancur akibat kendaraan besar,” ujar Tony.
Ia mengingatkan, gang permukiman idealnya hanya diperuntukkan bagi kendaraan kecil. Selain merusak rabat jalan yang dibangun warga secara swadaya, fisik kendaraan besar juga kerap tersangkut pada instalasi kabel listrik dan internet yang melintang rendah.







