Jembrana – Pujawali di Pura Dangkahyangan Rambutsiwi kembali akan digelar seperti biasanya setiap enam bulan sekali selama lima hari. Untuk periode kali ini, Pujawali akan dilaksanakan mulai Rabu Umanis wuku Perangbakat, 18 Pebruari hingga Minggu Kliwon wuku Perangbakat, 22 Pebruari 2026.
Sejumlah persiapan pun telah dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan upacara. Diawali dengan rapat internal pihak Pangempon dan Pekandel guna membentuk Panitia Pujawali yang bertugas menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
Setelah terbentuk, panitia langsung menyusun dudonan Pujawali. Rangkaian diawali dengan Matur Piuning, dilanjutkan Nunas Tirtha ke sejumlah Pura Kahyangan Jagad di Bali. Termasuk di antaranya nunas Tirtha di Segara Rambutsiwi yang dirangkaikan dengan ritual Pecaruan Pamehayu Segara.
Dalam ritual tersebut dihaturkan Pakelem berupa ayam dan bebek berwarna hitam sebagai simbol persembahan kepada Dewa Wisnu dan Dewa Baruna selaku penguasa lautan. Prosesi ini dipimpin oleh Jro Mangku Waniya selaku Pemangku Lingsir Pura Tirtha lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi.
Ketua Pengempon Pura Dangkahyangan Rambutsiwi, Ida Bagus Ketut Gunarta, menjelaskan bahwa seluruh Tirtha yang telah dikumpulkan selanjutnya disemayamkan di Pura Taman Dangkahyangan Rambutsiwi.
“Setelah semua Tirtha dari beberapa Pura Kahyangan Jagad terkumpul, kemudian Tirtha tersebut kami sthana-kan di Pura Taman. Sehari sebelum puncak Pujawali, Tirtha itu digunakan sebagai pesucian Ida Bhatara Sesuhunan, manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa yang berstana di Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, puncak Pujawali akan dilaksanakan tepat pada Rabu Umanis wuku Perangbakat (18/2/2026) dan dipuput oleh beberapa Sulinggih. Selanjutnya hingga Minggu Kliwon (22/2/2026), akan digelar persembahyangan bersama yang dipimpin para Pemangku dari masing-masing perahyangan.
“Pujawali ini bukan sekadar tradisi rutin enam bulanan, tetapi momentum untuk semakin menguatkan sradha dan bhakti umat. Kami berharap seluruh rangkaian berjalan lancar serta umat yang tangkil diberikan kerahayuan,” ungkap Ida Bagus Ketut Gunarta.
Rangkaian Pujawali akan ditutup dengan ritual Penyineban yang diiringi pementasan Tari Topeng Sidakarya dan Pependetan tepat pukul 00.00 Wita.
Di kawasan Pura Dangkahyangan Rambutsiwi sendiri terdapat sembilan perahyangan. Persembahyangan diawali dari Pura Pesanggrahan yang terletak di sebelah selatan jalan raya Denpasar–Gilimanuk, wilayah Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Selanjutnya dilaksanakan di Pura Taman, Pura Penataran, Pura Goa Dasar, Pura Tirtha lan Segara, Pura Melanting, Pura Pasimpangan Gading Wani, Pura Pasimpangan Dalem Ped, dan terakhir di Pura Luhur.
Dengan berbagai persiapan yang telah dimatangkan, pelaksanaan Pujawali tahun ini diharapkan dapat berjalan khidmat serta semakin memperkokoh nilai spiritual dan kebersamaan umat Hindu, khususnya di Kabupaten Jembrana. (!)







